Napak Tilas Berdirinya Kerajaan Garassi di Gowa

Napak Tilas Berdirinya Kerajaan Garassi di Gowa

YayasanHadjiKalla.co.id –  Kelurahan Garassi terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Garassi dapat ditempuh selama 3 jam dari Kota Makassar. Lokasinya sekisar 25 km dari Kota Malino. Dulunya, Garassi dikenal sebagai Desa Parigi dan terkenal dengan struktur pemerintahan bergelar “Karaeng”.

Berdasarkan hasil penuturan dari kalangan tokoh masyarakat yang ada saat ini, asal mula “Garassi” berasal dari dua pandangan, yakni:

Menurut Deng Mile, Pemangku Adat lingkungan Bulaenta Garassi,

Sebelum dikenal dengan nama Garassi, dahulu kala ada seorang karaeng (gelar bangsawan) yang berkuasa di Kampung Luara. Dia lah yang memberi nama Garassi, “Gang” berarti ukuran dan “Rassi” yang berarti penuh, sehingga bila diartikan menjadi karaeng yang mempunyai aturan yang penuh kebijakan/kearifan.

Konon, ia melahirkan seorang putra yang diberi nama Sulaeman Dg.Mattola, yang merupakan karaeng terakhir dari kerajaan Garassi. Ia memiliki tanda kebesaran berupa mahkota yang bernama Salokokati. Sebuah mahkota utusan dari kerajaan Gowa yang tidak pernah kembali. Sulaeman Dg.Mattola mengumpulkan semua Juwa’na atau Tubarania untuk membicarakan mahkota tersebut, karena sudah tidak ada lagi tanda kebesaran kerajaan berupa Mahkota Kerajaan Garassi. Ia mengumpulkan 3 tokoh Tubarania (salah satu kelompok pelindung kerajaan), yakni:

  1. Garancing Dg.Ma’lala : Gan
  2. Tanralili Dg.Sibali : Ta
  3. Rantusan Dg.Mangngasana : Rang

Dari hasil pertemuan inilah, kata Garassi diangkat menjadi nama kerajaan dari tiga tokoh tersebut dan Sulaeman Dg.Mattola dinobatkan menjadi raja I dari kerajaan Garassi.

Menurut A.Sirajuddin Petta Ampah, Pemangku Adat sekaligus Imam Lingkungan Garassi

Jauh sebelum Garassi dikenal, berdasarkan cerita rakyat bahwa pada waktu itu Kerajaan Garassi dipimpin oleh seorang Somba, namun oleh Kerajaan Gowa tidak mengizinkan adanya dua orang yang bergelar Somba selain dari Kerajaan Gowa, maka untuk Kerajaan Garassi yang menjadi Somba terakhir adalah Sulaeman Dg.Mattola (Istri dari Basse Dg.Memang). Setelah ia wafat, maka pemimpin kerajaan digantikan oleh Manda Deng Rapi, berdasarkan hasil pertemuan oleh 7 (tujuh) dewan yang hadir waktu itu, yakni:

  • Tan Toa : Penasehat adat dan agama
  • Tubarania : Pasukan Keamanan
  • Anak Karaeng : Pembantu bidang urusan sosial
  • Gallarang : Kepala Pelaksana Pemerintahan
  • Pinati : Pembantu bidang pertanian dan irigasi
  • Bicara : Pembantu bidang hokum dan juru bicara
  • Kadi : Pembantu bidang urusan agama

Tujuh dewan adat tersebut menyepakati untuk mengangkat Manda Deng Rapi sebagai Karaeng Garassi. Proses pelantikan digelar di Liku Labbua. Kata Garassi sendiri menurut versi kedua ini adalah karaeng yang memiliki ketajaman :

  • Tarang Mata atau tanggap dalam melihat penderitaan masyarakat atau daerahnya
  • Tarang Talia atau tanggap dan mau mendengar aspirasi dari masyarakatnya
  • Tarang Panggaukang atau menjadi contoh yang baik bagi masyarakatnya
  • Tarang Batang atau tanggap dan kuat dalam menghadapi tantangan

Roda pemerintahan

Pada masa pemerintahan raja Gowa Andi Idjo Karaeng Lalolang, Karaeng Garassi dibawa pimpinan Sainong Dg.Malo mengangkat beberapa pembantunya yakni Dg.Cuca sebagai pinati, Massa Punggang sebagai Gallarang, Dg.Ngapa sebagai Bicara, Denggong Dg.Lawa sebagai anak karaeng, Dg.Conno Sanagai Tau Toa, Dg. Nanna sebagai Kadi.

Untuk lancarnya roda pemerintahan pada waktu itu, Raja memperoleh tanah pertanian yang diberi nama tanah somba Garassi yang hasilnya dimanfaatkan karaeng untuk menjalankan roda pemerintahan. Disamping itu, karaeng juga mempunyai pendapatan yang berasal dari masyarakat, disebut Lento. Pajak Lento ini diperoleh ketika terdapat keluarga yang melaksanakan pesta seperti perkawinan. Karaeng mendapat 1 lento dari hasil pemotongan sapi proses pernikahan tersebut, ukuran lento diambil dari ukuran tapak kaki orang dewasa (sekitar 2-3 kg), disamping itu juga pemegang urusan lainnya dapat bagian lento tetapi tidak melebihi bagian dari karaeng.

Karaeng Garassi setelah Sainong Deng Malo, digantikan oleh Supu Deng Sanre dan setelah itu beliau digantikan oleh putranya yang bernama Mawang Deng Tawang yang terkenal pemberani dan sangat disegani oleh warganya. Ia mewarisi keberanian ayahnya Supu Dg.Sanre yang pada waktu itu turut serta dalam perjuangan membela tanah air. Mawang Deng Tawang dikenal memiliki ilmu keberanian dari ayahnya yang terkenal dengan nama ilmu Kangkang Macan (Cakar Macan) yang khasiatnya apabila ia berhadapan dengan musuh, maka lawannya tidak bisa berbuat apa-apa atau diam.

Dibawah kepemimpinan Mawang Deng Tawang, pasukan Tubarania Kerajaan Garassi sangat terkenal dengan sebutan Takkang Bassina Garassi pada masa penjajahan Belanda, waktu itu.

Pada tahun 1992, Garassi mengalami perubahan dari satu lingkungan yang berada di Kelurahan Malino. Garassi berganti nama menjadi Kelurahan Gantarang yang selanjutnya dipimpin oleh seorang lurah. Pada tahun 2006, Kelurahan Gantarang sendiri telah mengadakan pemekaran kelurahan yaitu Kelurahan Gantarang dan Kelurahan Garassi.

Penulis : Andri, Sarjana Pendamping Desa bangkit Sejahtera (DBS) Yayasan Hadji Kalla Kelurahan Garassi Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa.

By |2017-10-04T02:13:33+00:00October 4th, 2017|Categories: Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Kontak Kami

Kotak Saran

%d bloggers like this: