yayasanhadjikalla.or.id; Gowa – Pengembangan desa wisata merupakan salah satu hal yang mendapat perhatian dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, terutama di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, buktinya pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2018 terdapat 60 daerah/desa wisata Sulawesi Selatan.

Dari 60 desa wisata yang dicatat oleh BPS, Kabupaten Toraja Utara menjadi yang paling banyak dengan jumlah 17 desa wisata, disusul Kota Makassar, Tana Toraja, Enrekang dan Barru.

Menurut Yos, Peneliti BPS; meski setiap desa memiliki potensi, namun setiap desa juga punya tantangan yang berbeda dlam usahanya menjadi desa yang berkembang atau bahkan mandiri. Namun hal tersebut justru bisa menjadi pemicu bagi masyarakat pedesaan untuk bisa semakin mandiri dan maju dengan pemberdayaan yang sesuai dengan potensi yang ada di desa. Masyarakat di desa wisata akan mampu mengangkat potensi lokal yang semakin ditinggalkan di tengah era modernisasi.

Pada FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh Yayasan Hadji Kalla dalam program Economic and Social Care bersama dengan masyarakat Desa Balang Tanayya, Kecamatan Polut di Kabupaten Takalar (5/4), pengembangan desa wisata berbasis masyarakat menjadi bahasan yang menarik, karena melihat dari kondisi wilayah Desa Balang Tanayya yang tidak memiliki potensi sumber daya alam pariwisata layaknya tempat pariwisata lain yang telah populer.

Wilayah Desa Balang Tanayya yang berada di tengah hamparan lahar pertanian sawah dan pohon yebu milik Perkebunan Pabrik Gula Takalar serta kondisi geografis yang sangat berat menjadikan desa tersebut menjadi tidak dilirik untuk dijadikan objel wisata. Namun ada hal yang menjadi menarik jika diamati dan jika dikelola dengan baik, maka akan menjadi objek yang tepat dan menarik mata wisatawan lokal maupun mancanegara, hal tersebut adalah kearidan lokal yang ada di tengah masysarakat Desa Balang Tanayya.

Pengembangan desa wisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism-CBT) merupakan model pengembangan wisata yang mengedepankan peran serta masyarakat dalam pengembangan wisata. CBT menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataan, sehingga manfaat kepariwisataan sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat lokal.

CBT adalah konsep yang menekankan pada pemberdayaan komunitas agar lebih memahami dan menghargai semua aset yang mereka miliki seperti, kebudayaan, adat istiadat, kuliner, serta sumber daya alam lainnya. CBT merupakan sebuah kegiatan pengembangan wisata yang sepenuhnya melibatkan masyarakat. Perencanaan ide kegiatan, pengelolaan, serta pengawasan seluruhnya dilakukan oleh masyarakat secara partisipatif, serta manfaatnya pun dirasakan oleh langsung oleh masyarakat. Dengan demikian, peran masyarakat sebagai pemegang kepentingan merupakan unsur yang penting dalam pengembangan desa wisata berbasis masyarakat.

Desa wisata merupakan model pengembangan pariwisata yang mengintegrasikan atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung dalam suatu struktur kehidupan masyarakat serta menyatu dengan tata cara dan tradisi setempat.

Melalui pengembangan desa wisata diharapkan diharapkan terjadi pemerataan yang sesuai dengan konsep pembangunan pariwisata yang berkesinambungan. Di samping itu keberadaan desa wisata juga dapat melestarikan kebudayaan pedesaaan.

Masyarakat lokal berperan penting dalam pengembangan desa wisata karena sumber daya dan keunikan tradisi dan budaya yang melekat pada komunitas tersebut merupakan unsur penggerak utama kegiatan desa wisata. Di lain pihak, komunitas lokal yang tumbuh dan hidup berdampingan dengan suatu objek wisata menjadi bagian dari sistem ekologi yang saling kait mengait. Keberhasilan pengembangan desa wisata tergantung pada tingkat penerimaan dan dukungan masyarakat lokal.

Hal tesebut nampak jelas ada dalam komunitas masyarakat lokal di Desa Balang Tanayya. Menurut Kepala Desa Balang Tanayya, Hasan; Dengan luas tujuh km per segi, dan jumlah penduduk lebih dari 2000 jiwa menjadikan Desa Balang Tanayya memiliki potensi yang besar untuk bisa menjadi desa yang berkembang dengan status desa pariwisata yang unggul tentu dengan kearifan lokal dan hasil sumber daya pertanian lokal yang unggul.

Hal ini tentu menjadi kabar yang menggembirakan bagi tim dari Yayasan Hadji Kalla yang melihat dan mendengar langsung antusiasme dan keterbukaan yang ditunjukkan oleh masyarakat.

Ardi, salah seorang tokoh pemuda di Desa Balang Tanayya lebih lanjut memaparkan bahwa dalam prosesnya, untuk menjadi desa pariwisata akan sangat sulit, apalagi jika dilihat bahwa stigma di tengah masyarakat ketika mendengar kata desa wisata, yang terpikirkan adalah tentang objek kekayaan alam yang memiliki nilai jual pariwisata. Padahal pada hakikatnya wisata bisa berasal dari mana saja dan tidak melulu tentang objek wisata alam yang memiliki nilai jual.

Kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarat Desa Balang Tanayya bisa menjadi magnet gaya baru yang bisa menarik mata para wisatawan untuk datang berkunjung. Contohnya adalah kebiasaan warga yang menggunakan sarung dengan nuansa warna hijau dalam aktivitas sehari-hari, atau anak-anak usia tujuh hingga sembilan tahun yang membawa badik kecil  ketika sedang bermain yang bermakna bahwa setiap anak sejak dini telah diajarkan untuk mandiri dan bukannya untuk kekerasan. Badik yang identik dengan konotasi negatif karena merupakan senjata tajam bisa berubah dengan makna filosofis yang dianut oleh masyarakat Desa Balang Tanayya.

Kuliner khas Desa Balang Tanayya juga tidak kalah menariknya, banyak kue tradisional yang disajikan oleh masyarakat pada saat FGD tidak dapat dijumpai dintempat lain. Wisata kuliner tentu bisa menjadi pilihan yang tepat bagi para wisatawan untuk menghabiskan waktu di Desa Balang Tanayya.

Potensi yang begitu besar serta masyarakat yang telah sangat terbuka dalam berpikir membuat Yayasan Hadji Kalla punya rencana besar yang akan diwujudkan bersama masyarakat Desa Balang Tanayya.

Kedatangan Yayasan Hadji Kalla tentu menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi Masyarakat Desa Balang Tanayya menuju desa yang mandiri dan maju dengan perekonomian yang kuat.