Yayasanhadjikalla.co.id; Makassar – Bekerjasama dengan Atsiri Reasearch Center (ARC), Yayasan Hadji Kalla berikan pelatihan untuk Kelompok UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Kota Makassar dan para petani nilam dalam rangka edukasi produk turunan nilam dan start up bisnis. di Kyriad Haka Hotel, Jl. H.I.A. Saleh Dg. Tompo No.2, Losari, Kota Makassar, 18-20 Juli 2022. Program berlangsung dalam beberapa sesi, terbagi atas materi pembuka terkait nilam hingga praktik pembuatan produk turunan nilam seperti parfum, aroma terapi hingga sabun cair yang akan dibawakan langsung oleh ahli dan peneliti dari ARC Universitas Syiah Kuala, Aceh.

Kepala Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala, Dr. Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng. menjelaskan bahwa Ia dan timnya yang datang langsung dari Universitas Syiah Kuala; Aceh siap membagikan ilmunya kepada para peserta pelatihan dengan harapan akan hadir UMKM baru yang punya ineterest  besar terhadap produk-produk baru turunan nilam.

“Hari ini senang sekali datang ke Makassar untuk pertama kalinya, menjadi pemateri dalam Program Pelatihan Produk Turunan Nilam untuk para teman-teman UMKM yang ada di Sulawesi Selatan, utamanya yang ada di Makassar.” Tandasnya.  

ARC (Atsiri Research Center) sendiri sudah lebih dari tujuh tahun terakhir meneliti dan mengembangkan komoditas nilam, yang merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia ke banyak negara terutama di Benua Eropa. “Sebenarnya sudah sangat lama proses ekspor ini kita lakukan ke mancanegara, bahkan sudah sejak zaman penjajahan, dan dalam beberapa tahun terakhir ini kita sudah mulai mengembangkan produk-produk turunan dari nilam ini seperti parfum, lotion, medicated oil, dan juga anti-aging  dari bahan aktif nilam. Di ARC juga kita membina UMKM agar mereka bisa memiliki kemampuan, pengetahuan dan teknologi untuk membuat produk-produk berbasis minyak nilam yang kemudian bisa memberikan nilai tambah ekonomi.” Jelas Dr. Syaifullah kepada Tim Media Yayasan Hadji Kalla.

Sulawesi sendiri adalah produsen minyak nilam terbesar di Indonesia saat ini, dan menjadi pemasok untuk lebih dari 70% kebutuhan minyak nilam dunia. Sebelumnya adalah Aceh. Sudah ada banyak perusahaan-perusahaan besar yang mengambil minyak nilam dari Sulawesi, hal inilah yang menjadi alasan kenapa Sulawesi menjadi tempat yang sangat potensial untuk dijadikan pusat pengembangan produk-produk turunan nilam.

Lebih lanjut Dr. Syaifullan menjelaskan bahwa nilam ini sangat potensial untuk mengangkat ekonomi lokal. “Jadi dengan UMKM ini bisa kita lakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mereka bisa mengembangkan produk-produk turunan baru seperti parfum dan seterusnya.” Ujarnya.

Sebelumnya, Yayasan Hadji Kalla telah menyeleksi puluhan UMKM dari berbagai wilayah di Kota Makassar dan sekitarya dan terpilih sebanyak 15 UMKM mengikuti pelatihan ini. Dari mereka yang terpilih, ada pula petani nilam dan para produsen minyak nilam mentah dari Kabupaten Luwu.

Peserta terpantau sangat antusias saat pelatihan. ARC men-share pengalaman tujuh tahun di Aceh dalam pengelolaan nilam, mulai dari budidaya, pengolahan, menstabilkan harga pasar hingga menghasilkan produk turunan yang variatif. Mereka datang membawa instruktur berpengalaman dari Aceh,  Unsyiah Kuala dalam meracik produk turunan nilam. Harapannya tentu para peserta bisa mendapat ilmu pengetahuan baru sekaligus skill  dalam menghasilkan produk.

Ada yang menarik saat pelatihan berlangsung, di mana salah seorang peserta  UMKM yang mengembangkan kain sutra dari usaha lokal, berniat untuk menyematkan aroma kepada produknya dari esensial oil nilam, dengan tujuan bahwa nantinya kain sutra yang diproduksi akan punya aroma khas yang akan terus ada, tanpa parfum atau wewangian yang disemprotkan. Hal ini direspon oleh Dr Syaifullan dan berjanji untuk melakukan riset lanjutan agar ekstrak nilam bisa diaplikasikan dalam produk-produk lain salah satunya kain sutra khas Sulawesi ini.

“Dalam sejarahnya itu, di awal abad ke-11, adalah abad di mana para pedagang dari India yang membawa Sari (kain) khas India itu biasanya mereka celup kainnya ke minyak nilam, maka harganya akan sangat mahal.  Nah sekarang ini ada kesempatan untuk kolaboraasi antara UMKM Sutra tadi dengan ARC. Kami berjanji untuk melakukan penelitian lagi terkait ide ini, sehingga kita bisa kembali melahirkan produk seperti yang pernah ada di masa lalu.” Tegas Dr. Syaifullah.

Dr. Syaifullah berharap bahwa kedepannya, Yayasan Hadji Kalla bisa menjadi pembina bagi UMKM yang ada di Sulawesi, untuk terus belajjar dan berkembang utamanya dalam tema penggunaan ekstrak minyak nilam. “Kita juga berharap, semoga dalam kurun waktu satu tahun kedepan sudah ada UMKM dari Sulawesi yang mengembangkan produk turunan berbasis minyak nilam dan itu bisa menjadi income generating, akan membuka lapangan kerja sekaligus bisa menurunkan angka kemiskinan karena adanya usaha-usaha baru berbasis UMKM yang baik ini.” Jelasnya.

Sementara itu, Heryanto; Officer Program Ekonomi Sosial Yayasan Hadji Kalla berharap bahwa hasil dari pelatihan ini bisa diaplikasikan oleh para peserta UMKM dengan baik dan tepat. Para pelaku usaha bisa memilih membangun produk baru berbasis minyak nilam lalu perlahan menjadi bisnis berskala besar yang bisa lebih banyak menggaet tenaga kerja. Tentunya dengan produk turunan dari olahan minyak nilam yang punya kualitas tinggi bisa membangkitkan ekonomi pasar lokal hingga nasional. Kenapa kemudian kita juga mengundang para petani dari beberapa daerah di Sulawesi, karena kita harapkan transfer ilmu ini bukan hanya sampai di kelas pelaku UMKM namun juga memberikan dampak pada kelompok petani nilam langsung yang menjadi ujung tombak dari inisiasi kita hari ini.” Tandasnya.

Andi Tiara Pertiwi, salah sorang peserta menyampaikan; “Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak Yayasan Hadji Kalla yang punya perhatian besar kepada kami para pelaku UMKM dan melibatkan kami dalam pelatihan hari ini. Bukan hanya itu, karena  Yayasan Kalla juga akhirnya kami bisa lebih teredukasi terkait nilam ini. Harapan kami, semoga kegiatan-kegiatan seperti ini bukan hanya terhenti di sini namun juga bisa terus berjalan di banyak tempat dan menjangkau lebih banyak UMKM untuk dibina.” Pungkasnya.

Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala adalah pusat riset khusus tentang atisiri Aceh. ARC Unsyiah bertujuan untuk mendukung dan memperkuat agroindustri di Aceh, khususnya komoditas nilam. Bertujuan untuk berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan pembangunan inklusif berkelanjutan melalui pengembangan center of excellent (pusat keunggulan) bidang atsiri.

(br)