Perairan Indonesia kini sedang menghadapi ancaman serius akibat persoalan sampah yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Jika tidak segera di atasi, sampah bisa mengancam aspek tradisional, kriminal, dan alam. Hal ini diungkapkan oleh Bidang Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno, dikutip dari Kompas.com.

Agar permasalahan sampah bisa diselesaikan, Arif menyebut, perlu tindakan langsung dari negara di ASEAN. Hal itu, karena sampah yang ada di perairan Indonesia, asalnya bisa dari berbagai negara di dunia.

Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui setiap hari. Secara umum plastik tersusun dari polimer yaitu rantai panjang dan satuan-satuan yang lebih kecil yang disebut monomer. Polimer ini dapat masuk dalam tubuh manusia karena bersifat tidak larut, sehingga bila terjadi akumulasi dalam tubuh akan menyebabkan kanker. Bila makanan dibungkus dengan plastik, monomer-monomer ini dapat berpindah ke dalam makanan, dan selanjutnya berpindah ke tubuh orang yang mengkonsumsinya. Bahan-bahan kimia yang telah masuk ke dalam tubuh ini tidak larut dalam air sehingga tidak dapat dibuang keluar, baik melalui urin maupun feses (kotoran). Masing-masing jenis plastik mempunyai tingkat bahaya yang berbeda tergantung dari material plastik dan bahan kimia penyusunnya. Kita harus bijak dalam menggunakan plastik, khususnya plastik dengan kode 1, 3, 6, dan 7 (khususnya polycarbonate). yang seluruhnya memiliki bahaya secara kimiawi. Ini tidak berarti bahwa plastik dengan kode yang lain secara utuh aman, namun perlu dipelajari lebih jauh lagi. Maka, jika kita harus menggunakan plastik, akan lebih aman bila menggunakan plastik dengan kode 2, 4, 5, dan 7 (kecuali polycarbonate) bila memungkinkan (E.V. Antonakou, 2007).

Semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya maka limbah/buangan yang ditimbulkan dari aktivitas dan konsumsi masyarakat sering disebut limbah domestik atau sampah dan banyak plastik hanya untuk sekali pakai saja sehingga bertambah buangan/limbah yang dihasilkan. Hal ini dikerenakan perkembangan teknologi yang terus meningkat setiap pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah tersebut akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air, maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan.

Sampah plastik bagi kebanyakan orang awam dianggap sebagai hal sepele, sehingga masih sering dijumpai masyarakat yang menggunakan dan membuang sampah plastik seenaknya sendiri dan banyak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. SDM masyarakat Indonesia yang rendah sehingga mereka kurang memahami atau sadar mengenai bahaya dari sampah plastik.

Faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih tetap menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastik telah  menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola. Diperlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk membuat sampah bekas kantong plastik benar-benar terurai.

Penggunaan produk plastik secara tidak ramah lingkungan menyebabkan berbagai masalah lingkungan hidup yang serius. Sampah plastik tidak hanya menjadi masalah di perkotaan, namun juga di lautan. Dampak negatif sampah berbahan plastik tidak hanya merusak kesehatan manusia, membunuh berbagai makhluk hidup yang dilindungi, tetapi juga merusak lingkungan secara sistematis. Jika tidak dikelola secara serius, maka pencemaran sampah jenis ini akan sangat berbahaya bagi kelanjutan kehidupan di muka bumi.

Pencemaran Plastik Dunia

Dikutip dari  tirto.id, kota-kota di dunia menghasilkan sampah plastik hingga 1,3 miliar ton setiap tahunnya, jumlah tersebut bertambah hingga 2,2 miliar ton pada tahun 2025. Selama lebih dari 50 tahun, produksi dan konsumsi plastik global terus meningkat. Diperkirakan 299 juta ton plastik diproduksi pada 2013, menghasilkan masalah lingkungan hidup yang sangat serius bagi kita.

Angka tersebut menegaskan kecenderungan volume sampah dari plastik dalam beberapa tahun terakhir, sebagaimana dilaporkan studi worldwatch institute. Pemakaian produk plastik global di seluruh dunia diperkirakan mencapai 260 juta ton pada tahun 2008. Menurut laporan global industry analysis tahun 2012, pemakaian produk plastik di dunia mencapai sekitar 297 juta ton pada akhir 2015. Plastik juga menjadi salah satu penyebab pencemaran tanah di perkotaan.

Plastik secara bertahap menggantikan bahan-bahan seperti kaca dan logam. Saat ini, rata-rata orang Eropa Barat atau Amerika Utara menggunakan sekitar 100 kilogram plastik setiap tahun. Sebagian besar dalam bentuk kemasan. Sedangkan masyarakat Asia menggunakan sekitar 20 kilogram per orang. Namun angka ini diperkirakan akan tumbuh pesat seiring dengan perkembangan ekonomi Asia.

Menurut program lingkungan PBB (UNEP), antara 22% hingga 43% plastik yang digunakan diseluruh dunia dibuang ke tempat pembuangan sampah. Hal ini dapat diartikan sebagai sumber daya terbuang. Sampah yang dibuang berarti menyita ruang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Bayangkan, berapa puluh hektar yang digunakan untuk pembangunan TPS?!, di mana sebagian besar adalah sampah plastik.

Sebagian besar potongan plastik di Amerika Serikat, Eropa dan negara lain telah membentuk sistem pengumpulan untuk dikirim ke Tiongkok. Tiongkok menerima sekitar 56% impor sampah berbahan plastik dari seluruh dunia. Beberapa bukti tidak langsung menunjukkan bahwa sebagian besar plastik impor ini diolah kembali. Pengolahan dilakukan dengan teknologi rendah, di fasilitas tanpa kontrol perlindungan lingkungan yang cukup, seperti pembuangan air limbah.

Plastik Di Lautan

Selain itu, 10 hingga 20 juta ton sampah plastik mencemari lautan setiap tahun. Sebuah studi baru memperkirakan bahwa sekitar 5 trilyun partikel plastik dengan berat total 268.940 ton mengambang di lautan sekarang. Sampah plastik menghasilkan kerugian sekitar 13 milyar dollar tiap tahunnya, mulai dari kerusakan ekosistem laut hingga wisata alam. Hewan seperti burung laut, paus, lumba-lumba mati akibat memakan atau terjerat sampah plastik.

Sebuah studi yang dilakukan oleh kelompok kerja ilmiah di Pusat Nasional UC Santa Barbara yang telah diterbitkan dalam jurnal science menghitung masukan sampah plastik dari tanah ke laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 juta metrik ton sampah plastik mencemari lautan setiap tahun. Pada tahun 2025, input tahunan diperkirakan mencapai dua kali lipat lebih besar.

Sampah Di Indonesia

Tidak ada data akurat tentang jumlah pencemaran sampah plastik di Indonesia, walaupun terdapat beberapa perkiraan. Seperti dikutip dari geotimes, secara keseluruhan, sampah di jakarta mencapai 6000 higga 6500 ton per harinya. Sementara di pulau Bali, jumlahnya diperkirakan mencapai 10.725 ton per hari.

Sedangkan untuk kota palembang, jumlah sampah naik tajam dari 700 ton per hari menjadi 1200 ton per hari. Secara keseluruhan, jumlah total sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton per hari atau 0,7 kilogram per orang atau sekitar 67 juta ton per tahun.

Sebagian besar dari jumlah sampah tersebut adalah jenis sampah plastik. Menurut data yang dirilis oleh KLHK (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Indonesia, sampah plastik dari 100 toko/gerai anggota APRINDO selama satu tahun, menghasilkan 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Ini berarti sama dengan sekitar 65,7 Ha kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.

Menurut Indonesian Solid Waste Association (InSWA), Sebagaimana dikutip dari Antara, Produksi sampah plastik Indonesia berada di angka 5,4 juta ton per tahun. Sementara berdasarkan data dari BPLH (Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup), sekitar 13% dari sampah yang ada di jakarta – 6000 ton per hari – adalah sampah plastik.

Plastik Di Laut Indonesia

Jumlah tersebut berbeda jauh dengan jumlah sampah berbahan plastik yang ditemukan di pantai. Dari seluruh sampah yang ada di pantai, diperkirakan ada sekitar 57% merupakan sampah plastik. Diperkirakan sebanyak 46 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi di samudera. Bahkan, kedalaman sampah plastik di samudera pasifik sudah mecapai hampir 100 meter dari permukaan laut.

Sampah plastik juga telah menjadi salah satu sumber pencemaran laut di Indonesia. Seperti diketahui bahwa kondisi pencemaran laut di Indonesia cukup memprihatinkan. Sebesar 75% berkategori sangat tercemar, 20% tercemar sedang, 5% tercemar ringan. Sebagian sumber pencemaran adalah sampah plastik yang dibawa oleh rumah tangga di perkotaan atau pemukiman.

Sampah plastik ini terbawa ke laut dan pantai oleh parit kota yang bermuara ke sungai. Kemudian, sungai-sungai membawa sampah dan segala zat pencemar ke muara dan laut. Akibatnya, sampah terbawa oleh ombak lautan untuk mencapai pantai. Karena itu, tidak mengherankan jika pantai di Timur Sumatera ditemukan sampah plastik produk negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Singapura.

Seiring dengan perkembangan pembangunan kota, populasi penduduk, industri, pertumbuhan jumlah sampah plastik dipastikan akan meningkat. Perlu antisipasi dan pengelolaan secara menyeluruh untuk mencegah kerusakan lingkungan hidup akibat sampah plastik. Pengelolaan tersebut harus mengatasi sumber atau penyebab terjadinya pencemaran sampah plastik.

Kampanye Pengurangan Sampah Plastik

Elise Giles, adalah relawan dari program Australian Volunteer yang telah membawa kampanye pengurangan sampah plasti sejak beberapa tahun terakhir, setelah di tahun 2018 menjalankan tugas sebagai relawan di Vietnam, tahun ini, Ia melanjutkan pekerjaannya di Indonesia, tepatnya di Makassar dan bekerja bersama dengan Yayasan Hadji Kalla dan membagikan ilmu tentang pemberdayaan masyarakat di pedesaan. Selain bekerja, Elise juga aktif dalam kampanye pengurangan penggunaan plastik dalam berbagai pengembaraannya.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kota Makassar, Ia sangat kagum bisa mendapati kota metropolitan yang besar, namun dengan masyarakat yang begitu ramah dan peduli satu sama lain, namun sejenak kekagumannya kemudian sedikit terganggu ketika mengunjungi Pantai Losari, salah satu landmark Kota Makassar, Ia melihat begitu banyak sampah yang terapung di pinggir laut dan juga melihat para pengunjung membuang sampah disembarang tempat. Dirinya yang sudah sejak lama mengampanyekan tentang dampak penggunaan plastik tentu merasa terusik. Baginya kebiasaab buruk masyarakat yang tidak bisa menjaga lingkungan menjadi citra buruk bagi kota besar seperti Makassar.

Kritiknya tentu tidak hanya tentang dampak penggunaan plastik, namun juga tentang kultur masyarakat perkotaan yang tidak punya kesadaran dan ketidakpedulian terhadap lingkungan. Pola berpikir masyarakat yang menunjukkan sikap apatis bisa membuat lingkungan menjadi semakin tercemar.

Selanjutnya Elise dalam beberapa kesempatan membawa kampanye tentang dampak penggunaan plastik ketika menjadi pembicara, salah satunya saat ikut menjadi pemateri dalam program Kalla Group Goes To Campus yang di Inisiasi oleh Program Educare; Yayasan Hadji Kalla Rabu (10/4). Dalam kesempatan tersebut, Ia menceritakan pengalamanya menjadi warga dunia dan berkeliling Asia untuk bekerja menyerukan hidup sehat dan menjaga lingkungan.

Lebih lanjut, Ia menyampaikan keresahannya tentang dampak penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari dan berharap para mahasiswa yang hadir dalam seminar tersebut bisa paham dan semakin menumbuhkan kesadaran untuk bisa tetap menjaga lingkungan dengan mengurangi penggunaan bahan plastik.

Bagi seorang Elise, kampanye tantang dampak penggunaan sampah plastik tidak cukup dengan seruan untuk berhenti menggunakan bahan plastik namun juga tentang menumbuhkan kesadaran untuk merubah budaya masyarakat dalam menjaga lingkungan dengan baik.

Mungkin sebagian kita beranggapan bahwa memecahkan masalah polusi plastik semudah menerapkan daur ulang atau membersihkan botol kosong. Faktanya adalah bahwa sampah plastik menyebabkan masalah dari skala besar hingga mikroskopis. Hal itu meliputi:

Plastik ada di mana saja; bahkan pada item-item yang anda tidak duga sebelumnya. Karton susu dilapisi plastik, botol air kemasan di buang di mana saja. Bahkan, beberapa produk mungkin mengandung manik-manik plastik kecil. Setiap kali salah satu item ini dibuang atau dicuci di wastafel, polutan beracun memiliki lebih banyak peluang untuk mencemari dan membahayakan lingkungan.

Plastik lebih murah; hal ini merupakan salah satu item yang paling banyak dan digunakan secara berlebihan di dunia saat ini. Ketika dibuang, sampah berbahan baku plastik tidak terurai dengan mudah. Perlu puluhan tahun untuk terurai. Sampah yang mengandung plastik mencemari tanah atau udara di dekatnya ketika di udara terbuka.

Elise menjelaskan bahwa salah satu jenis sampah plastik yang paling banyak dipakai lalu kemudian dibuang adalah sedotan plastik, walaupun kecil, namun sedotan dari plastik ini punya dampak yang begitu besar terhadap pencemaran lingkungan dan bisa membunuh makhluk hidup terutama yang ada di lautan karena bentuknya yang kecil.

Dia berusaha memberikan pemahaman bagi para peserta tentang gerakan kecil yang bisa berdampak besar bagi kehidupan dan lingkungan salah satunya dengan beralih dariu menggunakan sedotan plastik ke sedotan yang terbuat dari bahan aluminium ataupun juga dari bambu yang lebih ramah lingkungan.

Kehadiran Elise bersama dengan isu yang dibawanya menjadi topik yang sangat menarik bagi mahasiswa yang menjadi peserta dalam seminar. Dengan antusias, para mahasiswa melontarkan pertanyaan tentang bagaimana menyikapi dampak penggunaan plastik, Elise pun memberikan jawaban tentang bagaimana membangun kesadaran untuk bisa menjaga lingkungan  dimulai dari hal kecil seperti mengurangi menggunakan bahan plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Kedepannya, Elise Giles bersama dengan Yayasan Hadji Kalla akan terus mengampanyekan gerakan mengurangi penggunaan bahan plastik ini dan beberapa seruan lain untuk menjaga lingkungan. Ia berharap Indonesia akan bebas dari sampah plastik dan bisa lebih bersih di masa yang akan datang.