Pukul 13.18 wita dua orang karyawan Yayasan Hadji Kalla bertemu dengan Bapak Abdul Malik di Lobi Wisma Kalla lantai 1. Beliau adalah salah satu penerima santunan tuna netra Yayasan Hadji Kalla. Beliau berumur 70 tahun, telah mendapat santunan selama 24 tahun lamanya. Setiap awal bulan, tepatnya tanggal 1, beliau mendatangi langsung kantor Wisma Kalla untuk menerima bantuan. Bertempat tinggal di Jalan Rappocini dengan mengandalkan tukang ojek, masih semangat dan sehat wal afiat untuk menerima tunai santunannya. Resikonya, ketika beliau lama menunggu, ongkos ojek pulang makin bertambah, tetapi semua disyukuri karena telah diberi nikmat yang berlimpah dari Allah swt. Hingga saat ini, Bapak Malik belum menikah dan hanya bergantung pada penghidupan keluarga.

Tiga tahun sebelumnya, beliau dibina di Asrama Disabilitas, salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada di Makassar. Ketika di asrama, Bapak Malik dilatih untuk mengembangkan keterampilan dengan membuat keset kaki yang terbuat dari sabut kelapa. Setiap hari, waktunya dihabiskan untuk menyelesaikan karyanya. Hasil kreativitas yang dibuat lalu dijual di pasar tradisional. Dari kerajinan itu, beliau mendapat upah setiap penjualannya. Itu pun jika laku dan habis terjual. Hanya saja, setelah beliau keluar dari asrama, pengrajin keset kaki ini tidak lagi ditekuni. Kurangnya modal, bahan dan tidak ada bantuan untuk memasarkan menjadi persoalan. Ketika di asrama, bahan sering tersedia lengkap sehingga beliau giat untuk menghasilkan karya setiap bulannya.

Saat ini, kehidupannya hanya bergantung pada keluarga. Setiap waktu, membantu orang lain ketika dibutuhkan. Dengan mengandalkan santunan yang kontinyu, sebanyak seratus ribu perbulan dari Yayasan Hadji Kalla, Bapak Malik membelanjakan untuk keperluan diri dan keluarga dirumah.

Allah Maha baik dengan segala rahmat yang diberikan-Nya kepada kita para hamba-Nya. Betapa tidak, Allah telah anugerahkan fisik yang sempurna, akal untuk berfikir, udara untuk bisa bernapas setiap detik. Dan masih banyak lagi nikmat yang tak mungkin bisa disebutkan satu per satu. Begitu sempurna.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah dan bentuk tubuh kalian, akan tetapi Allah melihat qalbu (akal dan hati) dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four − 1 =