Anak menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 (1), adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan. Sedangkan menurut WHO, anak adalah sejak di dalam kandungan sampai usia 19 tahun.1

Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, pasal 2 ayat 1-4:1

  • Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar.
  • Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa, untuk menjadi warga negara yang baik dan berguna.
  • Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan.
  • Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar.

Anak merupakan anugrah, amanah, sekaligus ujian dari Allah SWT kepada tiap orangtua. Banyak hal yang seharusnya dipersiapkan oleh pasangan sebelum menjadi orangtua, salah satunya mengetahui apa saja yang menjadi hak-hak anak. Orangtua kadang mengabaikan hal ini apalagi ketika anak masih berusia balita. Maka untuk melindungi hak-hak anak, PBB menyetujui Convection on The Rights of Children (Konveksi Hak Anak) pada 20 Nopember 1989 dan ditandatangani oleh Pemerintah RI di New York pada tanggal 26 Januari 1990.2

Hak-hak anak tertuang dalam Keppres No.36 Tahun 1990 Tentang Konveksi Hak Anak, anak merupakan potensi sumber daya insani bagi pembangunan nasional karena itu pembinaan dan pengembangannya dimulai sedini mungkin agar dapat berpartisipasi secara optimal bagi pembangunan bangsa dan Negara.2 Adapun prinsip dari KHA, yaitu Non diskriminasi; kepentingan terbaik bagi anak; hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan menghargai pandangan atau pendapat anak. Pada poin terakhir ini yang sangat jarang dilakukan bahkan dilupakan oleh orangtua. Orangtua biasa cenderung menggunakan haknya untuk menentukan kepentingan bagi anak. Tidak dapat dipungkiri bahwa orangtua melakukan untuk kebaikan anak. Namun, hal ini melupakan hak anak sebagai manusia seutuhnya.

Pada tahun 2010, hanya terdapat 55% anak balita yang memiliki akta kelahiran.3 Dimana kita ketahui bahwa akta kelahiran merupakan bentuk pengakuan Negara tentang status individu, perdata, & kewarganegaraan seseorang, bahkan menjadi syarat-syarat untuk seseorang memasuki dunia pendidikan, melamar pekerjaan, pengakuan anak, adposi anak, & pernikahan. Dari jumlah persentase masih banyaknya anak yang tidak memiliki akta kelahiran tentu membuat anak akan sulit mendapatkan hak-haknya. Terutama bagi seorang anak yang lahir dari korban pemerkosaan & Hamil Di luar Nikah (HDN), sebab tentu saja peristiwa kelahiran ini tidak akan dilaporkan oleh keluarga. Sistem pencatatan Indonesia sebaiknya mencontoh Thailand yang dimana tiap kelahiran bayi dicatat oleh catatan sipil baik dilaporkan maupun tidak dilaporkan. Hal ini membuat Indonesia tidak memiliki data pasti, dimana salah satu fungsi data adalah membantu tiap organisasi, instansi, bahkan pemerintah sendiri untuk membuat program tepat sasaran untuk masyarakat.

Disebutkan juga oleh UNICEF Indonesia, terdapat kerentanan dan risiko yang lebih besar bagi anak-anak yang tidak tercatat dan tidak memiliki akta kelahiran, yaitu risiko diperdagangkan dan dieksploitasi secara seksual & pekerja anak.3 Kerentanan lain yang paling umum terjadi tanpa disadari oleh orang dewasa adalah kekerasan. Kekerasan pada anak dapat berupa pukulan, bentakan, pengabaian, kata-kata tidak baik & ancaman. Kekerasan yang terjadi terutama di dalam rumah merupakan awal mula kegagalan pengasuhan & pendidikan anak. Kekerasan biasa bahkan sering terjadi pada keluarga yang tidak bahagia dan keluarga yang “hanya tampak bahagia”. Kita sering berpikir ada seorang anak yang bermasalah entah karena narkoba atau bahkan menjadi seorang geng motor, begal, PSK, & pemerkosa padahal ia berasal dari keluarga yang berada dan tokoh agama ataupun tokoh masyarakat. Perlu diingat kembali bahwa segala bentuk perlakuan negative pada anak merupakan cerminan bagaimana pengasuhan orangtua di rumah sebagai lingkungan pertama mereka. Orangtua mereka berpikir bahwa dengan kekerasan maka anak-anak akan menjadi “baik”, tarutama untuk hal keceerdasan intelektual mereka.

“Anak saya ketika dibentak & saya pukul nilai-nilainya di sekolah langsung menjadi bagus”, ini merupakan opini kebanyakan orangtua yang selalu menomor satukan nilai-nilai sekolah dan jejeran angka-angka bagus pada rapor anaknya.

Ketika anak mendapatkan nilai-nilai bagus itu orangtua akan berkata “Siapa dulu dong bapaknya”, “Siapa dulu dong ibunya” membangga-banggakan anaknya. Namun bagaimana ketika anak terlibat narkoba? Masih bisakah orangtua berkata “Siapa dulu dong bapaknya”.

Para orangtua yang menurut mereka dengan kekerasan dapat membuat indeks prestasi sekolah anaknya membaik dapat terus melanjutkan pengasuhannya seperti itu. Tapi perlu diingat satu hal, walaupun kecerdasan intelektualnya terbangun, namun tidak dengan kecerdasan emosionalnya. Secara tidak langsung orangtualah yang memberikan contoh ketika seseorang tidak menuruti kemauannya, maka dapat memukul, mengancam, & membentak. Apabila seseorang tidak dapat memenuhi harapannya, maka dapat menghardik & menggunakan kata-kata yang tidak baik. Hal ini tidak hanya akan berdampak kembali pada orangtua tetapi juga pada kehidupan sosial seorang anak.

Hal seperti kisah seorang Khalifah, yaitu Sayyidina Umar Bin Kattab, yang dimana beliau didatangi oleh seorang ayah yang putus asa dalam mendidik anaknya. Anak ini dikenal sebagai anak yang sangat nakal, sehingga sang ayah meminta Khalifah Umar menasehatinya. Ketika Khalifah Umar bertanya alasan mengapa ia melakukannya, anak itu bertanya mengenai kewajiban orangtua terhadap anaknya. Khalifah Umar berkata bahwa ada 3 hal yang menjadi kewajiban orangtua, yaitu memberikan ibu yang baik bagi calon anaknya, memberikan nama yang baik bagi anak & memberikan pendidikan al-Qur’an kepada anak. Lalu, pemuda ini berkata kepada beliau bahwa ayahnya tidak memberikan ibu yang baik baginya, ayahnya juga memberikan nama yang kurang baik (diriwayatkan arti namanya Kalelawar Jantan), & ia juga tidak pernah diajari satu pun ayat dalam Al-Qur’an. Sehingga Kalifah Umar Bin Khattab berkata kepada ayah sang anak bahwa ia telah berbuat dzalim terhadap anaknya sendiri jauh sebelum ia berbuat nakal terhadapnya.

Anak yang mengalami kekerasan tentu rentan berpikir negative, tersinggung, curiga, rendah daya juang, & mudah menyalahkan orang lain. Anak-anak ini pasti cenderung melakukan pelanggaran hukum, terlibat narkoba, pornografi, bahkan eksploitasi sebab melalui hal-hal ini mereka mendapatkan kebahagiaannya sendiri walaupun dengan cara yang salah. Sehingga menghargai anak merupakan hal yang harus orangtua lakukan untuk memenuhi haknya.

Menghargai pandangan atau pemikiran anak telah diajarkan oleh Allah SWT melalui Nabi Ibrahim as kepada Nabi Ismail as pada peristiwa kurban. Ada 3 hal yang diajarkan kita melalui hal ini, namun yang paling sering diambil sebagai pembelajaran adalah ajaran berkurban tiap Hari raya Idul Adha. Dua poin yang dapat diambil sebagai pembelajaran adalah panggilan yang baik dan sopan kepada anak, dimana pada poin ini ketika Nabi Ibrahim as bermimpi Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih Ismail as. Nabi Ibrahim as memanggil Ismail dengan “Ya Bunayya” yang artinya “Wahai Anakku” dan kemudian memberitahukan kepada Ismail mengenai mimpinya, lalu Nabi Ibrahim as menanyakan pendapat Ismail mengenai perintah Allah SWT ini.

Perbuatan Nabi Ibrahim as ini dapat dijadikan contoh teladan bagi tiap orangtua, yaitu selalu mengajak anak berdiskusi tiap pengambilan keputusan terkait dirinya. Contoh kecil pada saat ini, yaitu ajak anak berdiskusi dalam memilih warna sepatu atau cat kamarnya. Biarpun pada usia balita, anak sudah dapat memilih sendiri warna yang disukainya. Kegiatan berdiskusi ini tentu akan membangun keceerdasan jiwa & intelektualnya. Secara tidak langsung juga orangtua melatih anak untuk memiliki pandangan berbeda dengan orang lain.

Anak yang mengalami kekerasan baik fisik dan verbal dari rumah, ketika diluar rumah juga dikasari baik oleh guru dan masyarakat, maka tidak akan ada perubahan. Hal ini juga dapat membuat anak cenderung menutup diri dan beralih ke kegiatan negatof. Sebagai orangtua dan orang dewasa, ketika berinteraksi dengan mereka yang dibutuhkan adalah physocological recovery untuk membangun kembali rasa percaya dirinya dengan cara menghormati harga diri & martabat anak. Bagi orangtua yang telah melakukan kekerasan kepada anak baik secara sadar maupun tidak sadar, hal yang harus dipertanyakan kembali adalah “Bisakah orangtua berubah tidak melakukan kekerasan?” sebelum bertanya “Bisakah seorang anak tidak menjadi nakal?”. Selalu intropkesi diri sendiri akan kemamapuan kita untuk bersikap sopan, baik, & ramah kepada anak. Tidak ada orangtua yang jahat, yang ada orangtua yang belum saadar akan perilakunya kepada anak.

Memberikan perlindungan kepada anak juga menjadi salah satu hak anak. Perlindungan kepada anak bukanlah dalam bentuk materi, namun memberikan mereka latihan disiplin, dilatih tata karma & sopan santun, dilatih nilai-nilai & norma kehidupan, dan tidak memberikan semua yang ia minta. Bentuk disiplin terutama disiplin dalam beribadah, yaitu Rasulullah SAW bersabda bahwa keharusan memukul anak pada usia 7-10 tahun ketika mereka malas atau tidak mau beribadah. Namun, pukulan yang dimaksudkan Rasulullah SAW adalah jenis pukulan yang tidak menyakiti harga diri anak. Pukulan yang diberikan adalah di bagian tubuh lebih berdaging, seperti bagian paha ke bawah dengan sudut ayunan pukulan 45 derajat, tidak boleh lebih dari itu. Bagaimana ketika mereka melanggar? Orangtua tidak boleh membentak mereka, tetapi dibimbing dengan penuh kasih sayang. Menjadi orangtua bukanlah perkara yang mudah, tetapi bisa dibuat menyenangkan bersama anak.

Sumber:

  1. 2014. Kondisi Pencapaian Program Kesehatan Anak Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Peringatan Hari Anak Indonesia 2014.
  2. Pusat Dokumentasi ELSAM. 2014. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convection on The Rights of Children (Konveksi Hak Anak). Jakarta: Lembaga Studi & Advokasi Masyarakat.
  3. UNICEF Indonesia. 2012. Ringkasan Kajian: Perlindungan Anak.

 

Penulis: Meita A Kuncoro, S.Gz.,M.Kes (Penanggungjawab Program Parenting dan Pengembangan Kesehatan Yayasan Hadji Kalla)

2017-11-16T07:58:30+00:00