YayasanHadjiKalla.co.id, – Hari ini, beberapa orangtua disibukkan dengan anaknya yang telah memasuki jenjang sekolah dasar. Begitu pun dengan para siswa yang telah menghabiskan libur panjang, kembali melanjutkan pelajarannya. Menemani aktivitas saat ini, terdapat kisah yang menarik dari tulisan Thomas Amstrong.

Syahdan di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”. Sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah terstandarisasi dan telah ditetapkan manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah, setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 untuk masing-masing mata pelajaran. Adapaun kelima mata pelajaran pokok tersebut, yaitu terbang, berenang, memanjat, berlari, dan menyelam. Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “disamakan dengan manusia”, para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainnya. Oleh karena itu, berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah di sana, mulai dari elang, tupai, bebek, rusa, hingga katak.

Proses belajar-mengajar pun akhirnya dimulai. Terlihat bahwa beberapa binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu. Elang sangat unggul dalam mata pelajaran terbang. Tupai unggul dalam pelajaran memanjat. Bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang. Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari. Lain lagi dengan katak, dia sangat unggul dalam pelajaran menyelam.

Begitulah, pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa pada mata pelajaran tertentu. Namun ternyata, kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal yang telah ditetapkan sebelumnya. Inilah awal dari semua kekacauan itu. Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.

Burung elang mulai belajar cara memanjat dan berlari. Tupai pun demikian, dia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat mencoba terbang. Lain lagi dengan bebek, dia masih bisa mengikuti pelajaran berlari, walaupun sering ditertawakan karena lucu.

Demikian juga dengan binatang lainnya. Meskipun telah berusaha mempelajari yang tidak dikuasainya, mereka tetap tidak menampakkan hasil yang lebih baik. Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya. Lalu, perlahan-lahan elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya, tupai sudah mulai lupa cara memanjat, begitupun dengan binatang lain. Dan yang paling malang adalah rusa, dia tidak lagi dapat berlari kencang karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya, tak satu pun murid berhasil lulus dari sekolah tersebut. Bahkan, kemampuan mereka telah terpangkas dan satu per satu mulai mati kelaparan karena tidak bisa mencari makan dengan kemampuan unggul yang pernah dimilikinya.

Dari cerita ini, tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat ini pun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang tersebut. Kurikulum sekolah telah memaksakan anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.

Dinukil dari sebuah buku “Rahasia  Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak”. Penulis: Ayah Edy, Konsultan parenting dan penggagas Indonesian Strong From Home. Buku ini, disebar di lokasi binaan Yayasan Hadji Kalla untuk digunakan sebagai bahan penyuluhan oleh kader parenting.

 

2017-07-17T02:52:37+00:00