YayasanHadjiKalla.co.id, – “Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya” itu kalimat yang tepat menggambarkan perjalanan hidup manusia. Setiap orang ada masanya, ada usianya. Manusia lahir dan berkembang, dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan mati. Itulah umumnya siklus hidup manusia. Bukan cuma di kehidupan, pada pekerjaan pun, khususnya jabatan seperti itu, dilantik bekerja, selesai, dan diganti.

Hari Rabu, tanggal 5 Juli 2017, kemarin telah diadakan serah terima jabatan Koordinator Umum Yayasan Hadji Kalla dari Pak Syamril kepada Pak Zuhair, itu tulisan yang muncul pada berita WAG Kalla Group.

Tak terasa 6 tahun berlalu, sejak Mei 2011, saya bergabung dengan Yayasan Hadji Kalla. Awalnya, hanya beranggotakan 3 orang, saat ini berkembang hingga 60 karyawan. Kami memulai dengan revitalisasi dan merumuskan kembali visi, misi dan program Yayasan Kalla terkait Corporate Social Responsibility. Dari ide ini, hadirlah program Islamic Care, Educare, Green Care Dan Community Care.

Waktu itu, Ibu Fatimah Kalla sebagai Ketua Yayasan Hadji Kalla berpesan bagaimana agar program yang dijalankan bisa berkelanjutan dalam pengembangan masyarakat. Ibarat memberi kail bukan ikan, bukan sekadar bagi-bagi barang atau uang tetapi sifatnya pemberdayaan. Berawal dari pendidikan dan keagamaan yang diharapkan dapat memberikan cara pandang yang baik, serta memiliki daya saing dalam hidup.

Masa itu, program pertama saya adalah pembangunan sekolah, yaitu SMP-SMA Islam Athirah Bone pada Tahun 2011. Termasuk, mencari siswa baru dengan beasiswa penuh berasrama. Turun ke daerah mengadakan tes siswa baru. Alhamdulillah, sekolah tersebut sudah 7 kali menerima siswa baru, dengan jumlah siswa 150 alumni dan sekarang masih ada sekisar 200 siswa SMP-SMA dhuafa yang menerima beasiswa penuh. Tingkat Sulawesi Selatan, sekolah ini telah menjadi No. 1 Ujian Nasional SMA program IPS, dan No. 2 pada program IPA.

Kegiatan terus berkembang, masuk ke program beasiswa dengan membantu mahasiswa asal Sulsel masuk di Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Lalu, membimbing dan memotivasi siswa SMA agar dapat berani bermimpi sekolah lebih tinggi.

Kalla Group Goes to Campus, salah satu program yang memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar memanfaatkan waktu dengan baik, dan membangun kompetensi di era kompetisi. Lalu, muncul Beasiswa Tugas Akhir (BTA) yang memprovokasi mahasiswa agar meneliti hal yang bermanfaat sesuai kebutuhan masyarakat dalam menyusun skripsi. Tujuannya, agar skripsi tidak rest in paper tapi live in society.

Bidang Islamic Care yang selama ini sebagian besar untuk membantu pembangunan fisik masjid, dikembangkan bantuan Sound System Masjid. Sekarang ini, bantuan diberikan rata-rata 50 masjid perbulan. Ada dua tim teknisi yang bergerak ke seluruh Sulsel. Selain memasang sound sistem, tim juga melakukan servis serta pelatihan teknisi.

Terkait bidang Community Development, dimulai dengan Program Sarjana Pulang Kampung lalu berubah menjadi Desa Bangkit Sejahtera. Mencari sarjana yang siap ke desa membangun ekonomi pertanian, pendidikan, kesehatan dan keagamaan. Berawal dari satu desa di Mallari dengan 2 orang fasilitator, sekarang sudah ada 16 desa dengan sekitar 40 fasilitator dan supervisor. Lalu berkembang ke Kota Kampung Kita dengan membina 5 kelurahan yang masuk kategori pra sejahtera di Kota Makassar.

Program lain, yakni MCA. Membina 7000 petani kakao di Sulawesi Tenggara yang tersebar di 3 kabupaten dan 50 desa. Diharapkan, program ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani kakao melalui peningkatan produktivitas pohon kakao.

Bidang Green Care, berawal dari penanaman pohon di jalan poros Makassar Pare-pare, berlanjut penanaman terumbu karang, penghijauan lahan kritis dengan metode air seeding (penaburan benih dari udara via helikopter). Saat ini, terdapat rumah pembibitan, dan kawasan agro organik yang dapat menghasilkan sayur organik. Juga, terdapat cold storage yang sebelumnya membantu petani ekspor markisa ke Singapura.

Masih banyak program lain seperti parenting yang masuk ke desa-desa dan kawasan kumuh perkotaan dengan memberikan penyuluhan tentang pentingnya penguatan keluarga. Program pembinaan guru Al Qur’an juga berjalan. Lalu, kerja sama kampus untuk donor darah, khitanan massal, serta kampanye pola hidup bersih dan sehat.

Program baru saat ini adalah 1000 Cahaya Untuk Negeri yang memberikan lampu listrik dari panel surya kepada rumah di kawasan terpencil.

Seluruh program yang telah berjalan terus berkembang. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Masa saya, di tahap perintisan telah usai. Sekarang, tahap pengembangan. Saatnya, saya berpindah dari arena karena ada tugas baru sebagai Direktur Sekolah Islam Athirah yang tak kalah menantang. Masa pengembangan ada di tangan Muhammad Zuhair, semoga muncul ide dan program baru yang lebih baik.

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga semuanya bernilai ibadah dan menjadi amal jariyah. Terima kasih atas segala kerja sama, pelajaran dan kebersamaannya selama ini.

Catatan Syamril Al Bugisyi, Koordinator Umum Yayasan Hadji Kalla periode 2011-2017. YayasanHadjiKalla.co.id, – “Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya” itu kalimat yang tepat menggambarkan perjalanan hidup manusia. Setiap orang ada masanya, ada usianya. Manusia lahir dan berkembang, dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan mati. Itulah umumnya siklus hidup manusia. Bukan cuma di kehidupan, pada pekerjaan pun, khususnya jabatan seperti itu, dilantik bekerja, selesai, dan diganti.

Hari Rabu, tanggal 5 Juli 2017, kemarin telah diadakan serah terima jabatan Koordinator Umum Yayasan Hadji Kalla dari Pak Syamril kepada Pak Zuhair, itu tulisan yang muncul pada berita WAG Kalla Group.

Tak terasa 6 tahun berlalu, sejak Mei 2011, saya bergabung dengan Yayasan Hadji Kalla. Awalnya, hanya beranggotakan 3 orang, saat ini berkembang hingga 60 karyawan. Kami memulai dengan revitalisasi dan merumuskan kembali visi, misi dan program Yayasan Kalla terkait Corporate Social Responsibility. Dari ide ini, hadirlah program Islamic Care, Educare, Green Care Dan Community Care.

Waktu itu, Ibu Fatimah Kalla sebagai Ketua Yayasan Hadji Kalla berpesan bagaimana agar program yang dijalankan bisa berkelanjutan dalam pengembangan masyarakat. Ibarat memberi kail bukan ikan, bukan sekadar bagi-bagi barang atau uang tetapi sifatnya pemberdayaan. Berawal dari pendidikan dan keagamaan yang diharapkan dapat memberikan cara pandang yang baik, serta memiliki daya saing dalam hidup.

Masa itu, program pertama saya adalah pembangunan sekolah, yaitu SMP-SMA Islam Athirah Bone pada Tahun 2011. Termasuk, mencari siswa baru dengan beasiswa penuh berasrama. Turun ke daerah mengadakan tes siswa baru. Alhamdulillah, sekolah tersebut sudah 7 kali menerima siswa baru, dengan jumlah siswa 150 alumni dan sekarang masih ada sekisar 200 siswa SMP-SMA dhuafa yang menerima beasiswa penuh. Tingkat Sulawesi Selatan, sekolah ini telah menjadi No. 1 Ujian Nasional SMA program IPS, dan No. 2 pada program IPA.

Kegiatan terus berkembang, masuk ke program beasiswa dengan membantu mahasiswa asal Sulsel masuk di Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Lalu, membimbing dan memotivasi siswa SMA agar dapat berani bermimpi sekolah lebih tinggi.

Kalla Group Goes to Campus, salah satu program yang memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar memanfaatkan waktu dengan baik, dan membangun kompetensi di era kompetisi. Lalu, muncul Beasiswa Tugas Akhir (BTA) yang memprovokasi mahasiswa agar meneliti hal yang bermanfaat sesuai kebutuhan masyarakat dalam menyusun skripsi. Tujuannya, agar skripsi tidak rest in paper tapi live in society.

Bidang Islamic Care yang selama ini sebagian besar untuk membantu pembangunan fisik masjid, dikembangkan bantuan Sound System Masjid. Sekarang ini, bantuan diberikan rata-rata 50 masjid perbulan. Ada dua tim teknisi yang bergerak ke seluruh Sulsel. Selain memasang sound sistem, tim juga melakukan servis serta pelatihan teknisi.

Terkait bidang Community Development, dimulai dengan Program Sarjana Pulang Kampung lalu berubah menjadi Desa Bangkit Sejahtera. Mencari sarjana yang siap ke desa membangun ekonomi pertanian, pendidikan, kesehatan dan keagamaan. Berawal dari satu desa di Mallari dengan 2 orang fasilitator, sekarang sudah ada 16 desa dengan sekitar 40 fasilitator dan supervisor. Lalu berkembang ke Kota Kampung Kita dengan membina 5 kelurahan yang masuk kategori pra sejahtera di Kota Makassar.

Program lain, yakni MCA. Membina 7000 petani kakao di Sulawesi Tenggara yang tersebar di 3 kabupaten dan 50 desa. Diharapkan, program ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani kakao melalui peningkatan produktivitas pohon kakao.

Bidang Green Care, berawal dari penanaman pohon di jalan poros Makassar Pare-pare, berlanjut penanaman terumbu karang, penghijauan lahan kritis dengan metode air seeding (penaburan benih dari udara via helikopter). Saat ini, terdapat rumah pembibitan, dan kawasan agro organik yang dapat menghasilkan sayur organik. Juga, terdapat cold storage yang sebelumnya membantu petani ekspor markisa ke Singapura.

Masih banyak program lain seperti parenting yang masuk ke desa-desa dan kawasan kumuh perkotaan dengan memberikan penyuluhan tentang pentingnya penguatan keluarga. Program pembinaan guru Al Qur’an juga berjalan. Lalu, kerja sama kampus untuk donor darah, khitanan massal, serta kampanye pola hidup bersih dan sehat.

Program baru saat ini adalah 1000 Cahaya Untuk Negeri yang memberikan lampu listrik dari panel surya kepada rumah di kawasan terpencil.

Seluruh program yang telah berjalan terus berkembang. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Masa saya, di tahap perintisan telah usai. Sekarang, tahap pengembangan. Saatnya, saya berpindah dari arena karena ada tugas baru sebagai Direktur Sekolah Islam Athirah yang tak kalah menantang. Masa pengembangan ada di tangan Muhammad Zuhair, semoga muncul ide dan program baru yang lebih baik.

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga semuanya bernilai ibadah dan menjadi amal jariyah. Terima kasih atas segala kerja sama, pelajaran dan kebersamaannya selama ini.

Catatan Syamril Al Bugisyi, Koordinator Umum Yayasan Hadji Kalla periode 2011-2017. Ditulis pada tanggal 5 Juli 2017, Makassar.

2017-07-10T08:14:44+00:00